Gaming Lifestyle

Kenapa Kita Gampang Terpancing Chat Toxic? Ini Penjelasan Psikologinya

Ketika disalahkan, kita merasa wajar membalas. Padahal balasan itu bisa merusak fokus dan Credit Score sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi di pikiran kita?

oleh Tim Editorial Itembuild6 menit baca
Tanda peringatan bertuliskan Toxic dengan simbol tengkorak
Foto oleh Bernd Dittrich di Unsplash
Di Halaman Ini7
  1. 01Kadang kita sendiri memang main jelek
  2. 02Masalahnya mulai berbeda saat chat menyerang pribadi
  3. 03Kenapa kita gampang terpancing?
  4. 04Membalas kasar membuat kita rugi dua kali
  5. 05Kalau perlu membalas, balas yang berguna
  6. 06Mute bukan berarti kalah
  7. 07Kesal itu wajar, ikut toxic itu pilihan

Pernah main serius, berusaha jaga lane, ikut war, dan bantu ambil objektif, tetapi tetap saja ada yang menulis “report dia” di chat?

Awalnya kita diam. Lama-lama kesal juga karena orang itu terus menyalahkan. Akhirnya kita balas. Satu kalimat berubah jadi adu mulut sampai pertandingan selesai. Tim tetap kalah, suasana hati rusak, dan justru chat kita sendiri yang bisa membuat Credit Score berkurang.

Bagian paling menyebalkan adalah kita merasa tidak memulai. Kita cuma terpancing. Namun sistem tetap melihat kata-kata yang kita kirim, bukan siapa yang lebih dulu bikin emosi.

Kadang kita sendiri memang main jelek

Sebelum membahas orang lain, harus jujur dulu: kadang kita juga bermain buruk tanpa sengaja.

Bisa saja sedang fokus lalu dipanggil orang rumah. Tiba-tiba koneksi merah saat teamfight. Notifikasi masuk, layar tersentuh, atau ada urusan kecil yang membuat perhatian lepas beberapa detik. Di mata teman setim, yang terlihat cuma hero kita diam atau datang terlambat. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi di sekitar kita.

Hal yang sama mungkin terjadi pada pemain lain. Memang ada orang yang sengaja mengganggu, tetapi tidak semua kesalahan dibuat karena pemainnya malas atau tidak peduli.

Kalau kesalahannya memang dari kita, balasan pendek sering sudah cukup:

  • “my bad, tadi telat rotasi”
  • “maaf, tadi lag”
  • “kepanggil orang rumah, sekarang fokus”
  • “salahku tadi, main aman dulu”

Tidak perlu menjelaskan panjang-panjang. “My bad” pada dasarnya cuma cara singkat untuk bilang, “iya, tadi salahku.” Kadang satu kalimat itu cukup untuk membuat tim berhenti mencari siapa yang harus disalahkan dan kembali main.

Masalahnya mulai berbeda saat chat menyerang pribadi

Mengkritik permainan dan menghina orang itu bukan hal yang sama.

Kalimat “jangan war dulu, tunggu kami” masih ada gunanya. Tim tahu apa yang perlu dilakukan. Namun kalau chat sudah menyerang kemampuan, keluarga, asal daerah, atau kehidupan orang lain, pembahasannya sudah tidak ada hubungannya dengan pertandingan.

Yang sering terjadi, satu pemain melempar ejekan lalu pemain kedua membalas lebih kasar. Pemain ketiga ikut mengetik. Dua pemain lainnya akhirnya malas melanjutkan karena tim lebih sibuk berdebat daripada menjaga base.

Di titik itu, bukan cuma satu pemain yang merusak match. Semua yang ikut adu mulut membantu membuat keadaan semakin buruk.

Kenapa kita gampang terpancing?

Karena yang terasa diserang bukan cuma cara kita bermain. Kita merasa usaha kita tidak dilihat dan harga diri kita ikut direndahkan. Apalagi kalau sebenarnya kita sudah bermain cukup baik. Rasanya ingin sekali membuktikan bahwa orang di chat itu salah.

Masalahnya, membuktikan diri lewat adu mulut hampir tidak pernah berhasil. Orang yang sejak awal ingin mencari kambing hitam biasanya tidak tiba-tiba berubah pikiran setelah membaca balasan kita.

Di balik layar, orang sering buru-buru menilai dari hal yang paling terlihat: nama akun, avatar, sampai bendera negara. Belum melihat cara mainnya, cap buruk sudah diberikan. Kami pernah merasakannya saat memakai ikon bendera Myanmar; komentar tidak enak muncul hanya karena benderanya. Padahal bendera di profil tidak menceritakan siapa orangnya atau bagaimana ia akan bermain.

Ketika pemain hanya dipandang sebagai nama atau simbol, lebih mudah untuk lupa bahwa ada orang sungguhan di balik akun tersebut. Kajian tentang perilaku manusia saat berkomunikasi online menjelaskan bahwa sebagian orang merasa lebih lepas ketika tidak terlihat langsung dan tidak berhadapan dengan reaksi orang lain.

Yang menarik, penelitian pada pemain Mobile Legends di Indonesia menemukan bahwa orang yang pernah menjadi sasaran toxic juga lebih mudah kehilangan batas untuk ikut membalas. Ini tidak berarti semua korban pasti berubah menjadi toxic. Namun rasanya memang familier: “Dia duluan yang mulai, jadi wajar kalau aku balas.”

Di sinilah jebakan psikologisnya: saat orang lain menghina, kita menyebutnya toxic. Saat kita mengirim hinaan yang sama, kita menyebutnya membela diri. Kata-katanya bisa sama kasar, tetapi karena merasa menjadi korban, kita memberi perlakuan khusus kepada diri sendiri.

Bagi teman setim yang membaca dan sistem yang memeriksa chat, keduanya tetap menambah keributan. Toxic akhirnya menyebar bukan karena semua orang datang ke pertandingan dengan niat buruk, tetapi karena setiap balasan terasa punya alasan yang benar.

Membalas kasar membuat kita rugi dua kali

Kerugian pertama jelas: akun kita sendiri bisa kena laporan atau hukuman. Pemain yang memancing mungkin ikut dihukum, mungkin juga tidak. Namun kata-kata yang kita kirim tetap menjadi tanggung jawab kita.

Kerugian kedua sering tidak terasa: fokus permainan hilang. Kita mulai memperhatikan chat lebih sering daripada map. Jempol sibuk mengetik ketika lawan mengambil Turtle atau Lord. Bahkan setelah chat berhenti, kalimat tadi masih berputar di kepala.

Penelitian tentang emosi pemain game menunjukkan bahwa emosi negatif bisa mengganggu cara berpikir dan membuat permainan memburuk. Sederhananya, makin sibuk kita memikirkan ejekan, makin sedikit perhatian yang tersisa untuk mengambil keputusan.

Lucunya, kita ingin membuktikan bahwa kita bukan beban tim. Karena terlalu emosi, permainan kita malah benar-benar berantakan.

Kalau perlu membalas, balas yang berguna

Tidak semua chat harus dijawab dengan diam. Kadang tim memang butuh penjelasan atau ajakan untuk mengubah permainan. Bedanya, balasan itu harus membantu langkah berikutnya.

Beberapa kalimat sederhana jauh lebih berguna daripada adu hinaan:

  • “jangan war dulu, tunggu lengkap”
  • “aku clear atas dulu”
  • “def dulu, masih bisa”
  • “fokus next, jangan ketik”
  • “tunggu aku, 10 detik lagi hidup”

Kalau tuduhannya tidak benar, kita juga tidak wajib menulis pembelaan panjang. Cukup beri informasi yang dibutuhkan tim, lalu lanjut bermain. Hasil pertandingan tidak akan ditentukan oleh siapa yang memenangkan debat di chat.

Mute bukan berarti kalah

Sering kali kita baru menekan mute setelah membaca ejekan selama sepuluh menit. Saat itu emosi sudah terlanjur penuh.

Kalau sejak awal seseorang hanya menghina dan tidak memberi informasi berguna, mute saja. Bukan karena kita takut, tetapi karena perhatian kita lebih berharga daripada pendapat orang asing yang mungkin tidak akan pernah kita temui lagi.

Setelah pertandingan, gunakan fitur laporan kalau memang ada pelanggaran. Tidak perlu mengirim pesan tambahan di luar match hanya untuk melanjutkan pertengkaran.

Kalau emosi belum turun, jangan langsung masuk ke match berikutnya. Minum, jalan sebentar, atau buka hal lain beberapa menit. Memaksakan match berikutnya saat pikiran masih panas biasanya hanya memindahkan kekesalan ke tim baru. Kami juga pernah membahas soal memberi batas pada sesi bermain dalam artikel cara mengatur waktu main game.

Kesal itu wajar, ikut toxic itu pilihan

Teman setim memang bisa bermain tidak becus. Kita sendiri juga bisa membuat kesalahan karena lag, terdistraksi, atau sekadar salah mengambil keputusan. Semua itu tetap menyebalkan ketika terjadi di ranked.

Namun kita masih punya pilihan atas chat yang dikirim. Bisa mengakui kesalahan dengan “my bad”, memberi arahan singkat, menekan mute, atau terus melanjutkan adu mulut sampai Credit Score sendiri yang kena.

Menahan balasan kasar bukan berarti orang lain benar. Itu hanya berarti kita tidak mau satu orang asing mengendalikan permainan dan emosi kita sekaligus.

Kalau match-nya sudah telanjur kalah, setidaknya jangan sampai kita kehilangan dua hal sekaligus: bintang dan kendali diri.